Kemuliaan
Pulau Mengkudu, diceritakan oleh Yakub
dari desa Hadakamali, Sumba Timur.
Ada suatu pulau yang keramat, jauh di
lautan, pulau Mengkudu, namanya. Pulau itu “panas”,
artinya ada suasana jahat di sana, menakutkan. Orang perempuan
dilarang pergi ke sana. Kata orang, kalau perempuan pergi
ke sana, mereka akan mati. Seorang raja membawa isterinya
ke sana memancing. Begitu isterinya mendarat di pulau
untuk bermalam, dia jatuh sakit dan meninggal. Si raja
itu memanggil seorang dukun yang mengetahui daya sihir,
lalu pulau itu ditenangkan kembali. Ada keanehan lain,
menurut nelayan, ada suatu teluk di Mengkudu, di tempat
itu terdapat banyak bangkai penyu yang besar dan tua sekali,
mungkin sampai umur 150 tahun. Ada yang sudah membusuk
tetapi ada banyak yang tidak dimakan walaupun ada banyak
pemakan bangkai di sana. Seolah2 tempat itu seperti perkuburan
penyu.
Mariana Matalu, seorang pengrajin tenun
dari desa Pau, Pulau Sumba menerangkan
pentingnya penyu.
Saya mulai belajar tenun waktu saya S.D.
Kami belajar tenun untuk membiayai sekolah, dengan menjual
hasil tenun kepada pedagang Cina dari Waingapu. Kami mulai
belajar cara memutar benang, lalu belajar mewarnakan benang
dari akar kombu dan daun2. Setelah kami tahu mengolah
warna asli menjadi warna yang sudah diwarnabirukan dan
merahkan, kami mulai belajar tenunan polos, kemudian kami
mulai membuat gambar bunga, dan setelah itu kami mulai
dengan gambar kecil, yang menurut adat istiadat harus
kami abadikan.
Jadi kami mulai mengerjakan dengan gambar
kura2, ikan, mamuli, dan andung – itu gambar rumah2
adat. Kami belajar dengan bimbingan dari yang sudah tua
dalam kampung kami.
Pentingya lambang kura2 bagi kami sehingga
kami mendahulukan dalam waktu belajar yang pertama, karena
dia merupakan simbol yang paling awal yang harus bisa
kami kerjakan, kura2 ini mempunyai tradisi tersendiri
bagi kami. Pada waktu upacara adat, misalnya pada waktu
kami ikutserta dalam tarian Sumba, harus kami memakai
kain ini.
Yang kedua kami mempunyai simbol sejarah
dengan Hai Kara Wulang. Menurut kami itu, Kara Wulang
itu didominasikan dengan bulan, karena kami bisa lihat
dari bulan, bagaimana kura2 itu naik ke pasir.
Kami tahu pada sa’at ini, pasti
kura2 naik ke pasir dan kami pergi mencarinya. Jadi kami
lihat dari simbol bulan, jadi menurut kami, kara wulang
mempunyai tradisi yang sangat kuat.
Dalam rangka upacara, misalnya meninggalnya
raja kami , waktu dikuburkan, mendekati upacara pemakaman,
mereka sering dipakai, mereka duduk mengelilingi rajanya,
dan mereka harus memakai, hai kara. Yang kedua, pada waktu
upacara pernikahan, lelaki memakai sarung, sedangkan perempuan
memakai hai kara. Juga kalau membina adat istiadat apapun,
dia harus memakai ini mamuli, yaitu simbol kerajaan. Bentuknya
mamuli bukan bunga, ‘tapi aslinya dari nenek moyang
dulu, agak sulit untuk dijelaskan artinya.
Tenunan ikan, mamuli, kura2 oleh
Mariana Matalu.
|