Penyelamatan
Pak Anton, ketua suku Kimalaja, menceritakan
penyelamatan nenek moyangnya oleh sekelompok penyu.
Asal-usul orang Palu’e adalah berasal
dari berbagai suku, ada suku Kimalaja, ada suku Lo’imite,
ada suku Ubimuri, ada suku Kinde Pima, ada suku Surya
…
Mereka berasal dari Bugis Bone, dari
Himalaya dengan menggunakan sebuah perahu yang dinamakan
"Sawar Gadi".
Di sa’at itu, terdapat musibah…
perahu itu tenggelam, dan pada sa’at menjelang di
mana mereka tidak bisa berdaya untuk hidup, datanglah
sekelompok penyu yang menolong manusia2 itu dan menyelamatkannya..
Dari kebiasaan penyu yang berenang dengan
punggung ke atas, pada sa’at menyelamatkan mereka
itu penyu itu terpaksa balikkan perutnya, lalu manusia2
itu menunggang di atas perut penyu, lalu penyu itu membawa
mereka ke darat, sehingga bagi orang Palu'e yang bersuku
Kimalaja, mereka biasanya memperingati penyu itu dan menganggap
penyu itu sebagai dewa penolong.
Di setiap upacara adat, lagu penyu lenga
Keja Lenga senantiasa dilagukan pada sa’at upacara2
ritual yang diselenggarakan oleh suku Kimalaja dan kain
dengan gambar penyu dipakai.
Kain itu sedemikian keramat sehingga
tidak boleh pernah dibawa dari Pulau Palu’e. Sampai
dengan hari ini, mereka terpaksa harus pantang memakan
daging penyu. Kalau kami memakan daging penyu, maka dipercayai
bahwa tangan kami akan berubah menjadi sirip penyu, karena
mereka menganggap penyu adalah sebagai dirinya sendiri,
yang dulu pernah menolong nenek moyang mereka…
Kepedulian mereka untuk tetap memelihara
penyu adalah merupakan satu kewajiban mereka untuk peduli
terhadap penyu sehingga penyu tidak akan musnah…
Mungkin ini adalah merupakan ceritera
rakyat, dongeng ataukah fakta, sampai dengan hari ini,
masih diyakini oleh masyarakat sekarang ini, dan Keja
Lenga merupakan satu kewajiban bagi suku itu untuk mengenang
selalu, di mana mereka hidup dan ceritera ini untuk turun-temurun
mereka sampai akhir masa. Terima kasih.
|