Home

| Stories | | | Music | Background
   

Pulau Palu'e

 
The legend of Keja Lenga - the origins of the people of Palu'e. Keja means turtle and lenga means floating on its back.
The Rescue
Pak Anton, Kimalaja elder, retells the rescue of his ancestors by turtles known as the Legend of Keja Lenga -the origins of the people of Palu’e.

The people of Palu’e consist of several sects, the Kimalaja (Himalaya sect), Lo’imite, Ubimuri, Kinde Pima, and Surya (Sun God) sect…

The ancestors came via Bugis Bone, South Sulawesi, from Himalaya, on a boat named Sawar Gadi. A disaster struck… the boat sank way out to sea. Just as the people were about to give up hope of staying alive, a group of turtles came to rescue the people and their treasure.

Usually turtles swim with their backs up, but at that moment, the turtles turned over and the people climbed onto the turtles’ bellies. The turtles took them to the shore, so the people of the Kimalaja sect always remember the turtles and regard them as a saviour god.

Whenever the Kimalaja sect conduct traditional ceremonies the song of Keja Lenga is sung and the textiles with the motif of the turtle is worn. This textile is so sacred it can never leave the island.

Until today, we must refrain from eating turtle meat because we believe that the turtles are like one of our own kind that helped their ancestors…If we eat the turtle our hands will grow into turtle flippers.

It is our responsibility to care for turtles so that they will not be wiped out…

Perhaps this is a folk tale, a legend or fact, yet until today it is still believed by the people and Keja Lenga is something we must remember forever.

As long as we live, the story will be handed down through the generations until the end of time. Thank you.

Palu’e Island lies five hours north west of Maumere, Flores. The enormous tsunami that destroyed the northeast coast of Flores in 1992 is said to have begun off the coast of Palu'e.

 
Penyelamatan
Pak Anton, ketua suku Kimalaja, menceritakan penyelamatan nenek moyangnya oleh sekelompok penyu.

Asal-usul orang Palu’e adalah berasal dari berbagai suku, ada suku Kimalaja, ada suku Lo’imite, ada suku Ubimuri, ada suku Kinde Pima, ada suku Surya …

Mereka berasal dari Bugis Bone, dari Himalaya dengan menggunakan sebuah perahu yang dinamakan "Sawar Gadi".

Di sa’at itu, terdapat musibah… perahu itu tenggelam, dan pada sa’at menjelang di mana mereka tidak bisa berdaya untuk hidup, datanglah sekelompok penyu yang menolong manusia2 itu dan menyelamatkannya..

Dari kebiasaan penyu yang berenang dengan punggung ke atas, pada sa’at menyelamatkan mereka itu penyu itu terpaksa balikkan perutnya, lalu manusia2 itu menunggang di atas perut penyu, lalu penyu itu membawa mereka ke darat, sehingga bagi orang Palu'e yang bersuku Kimalaja, mereka biasanya memperingati penyu itu dan menganggap penyu itu sebagai dewa penolong.

Di setiap upacara adat, lagu penyu lenga Keja Lenga senantiasa dilagukan pada sa’at upacara2 ritual yang diselenggarakan oleh suku Kimalaja dan kain dengan gambar penyu dipakai.

Kain itu sedemikian keramat sehingga tidak boleh pernah dibawa dari Pulau Palu’e. Sampai dengan hari ini, mereka terpaksa harus pantang memakan daging penyu. Kalau kami memakan daging penyu, maka dipercayai bahwa tangan kami akan berubah menjadi sirip penyu, karena mereka menganggap penyu adalah sebagai dirinya sendiri, yang dulu pernah menolong nenek moyang mereka…

Kepedulian mereka untuk tetap memelihara penyu adalah merupakan satu kewajiban mereka untuk peduli terhadap penyu sehingga penyu tidak akan musnah…

Mungkin ini adalah merupakan ceritera rakyat, dongeng ataukah fakta, sampai dengan hari ini, masih diyakini oleh masyarakat sekarang ini, dan Keja Lenga merupakan satu kewajiban bagi suku itu untuk mengenang selalu, di mana mereka hidup dan ceritera ini untuk turun-temurun mereka sampai akhir masa. Terima kasih.

   
Stories Menu
| | | | | | | | | |