Jilarringa
– Penyu Laut
Ini sebuah dongeng suku Aborijin diceritakan
oleh Pauline (Jedda) Puruntatameri, dari Pulau Melville.
Pada jaman dahulu kala, belum ada air
laut di dunia ini. Pada suatu hari, ada orang mencari
madu. Mereka menemukan sekawan lebah masuk keluar sebuah
pohon, maka pohon itu ditebang, pakai sebuah kapak batu.
Jilarringa mengambil madu itu dan makannya.
Oleh karena rasanya manis sekali, dia makan lebih banyak
dari temannya. Lalu, semua temannya merasa haus, sehingga
mereka menghabiskan semua air minum. Tidak ada air minum
lagi untuk Jilarringa. Dia pergi mencari air minum. Suaminya
bilang ada sungai tidak jauh dari tempat itu. Dia mendengar
suara pukulan air pada batu, maka dia berpikir “saya
akan berenang, dan minum sambil menyelam.”
Air itu begitu dingin dan menyegarkan,
sehingga dia melupakan pantangan nenek moyang. Dia menyelam
semakin dalam, akhirnya dia sampai di sebuah batu yang
besar dan tertidur di samping batu itu. Suaminya menunggu
lama sekali, sehingga dia kuatir, kemudian dia juga berkecimpung
kedalam sungai, untuk mencari isterinya, tetapi tidak
bisa menemukannya.
Kemudian, malam itu, suaminya kembali
untuk melihat kalau tubuhnya terdampar ke pantai. Sa’at
itu bulan purnama, maka dia bisa melihat dengan jelas.
Di sanalah Jilarringa berenang di bawah sinar bulan, diikuti
jejak seperti ulat kelip-kelip di belakangnya. Dia teriak,
tetapi Jilarringa hanya terus asyik berenang, muncul ke
permukaan air sewaktu-waktu untuk bernafas. Suaminya menangis,
lalu dia pulang.Setiap hari, dia kembali untuk mencari
Jilarringa. Dia berubah menjadi burung bangau putih yang
masih terlihat sampai sekarang ini, berdiri di tumpukan
pasir di muara sungai.
Oleh karena Jilarringa kencing di sungai
itu, airnya berubah menjadi asin. Dia berubah menjadi
penyu laut, dan masih hidup di sana sampai sekarang.
Lukisan kiri ke kanan: Donna Burak,
Cecilia Helen Kerinauia, Marlene Minniecom (foto dengan
anaknya)
|