Kutukan
Penyu
Haji Damsyiah Hussein Akbar, kepala desa Gili, ingat
pada masa kecilnya.
Kakek saya pendatang pertama dari Bugis.
Mereka mencari nafkah sebagai nelayan, menanam kelapa,
ubi dan jagung. Kehidupan kami waktu masa kecil, saya
dengan adik saya, asyik melihat ikan banyak, banyak sekali
karang biru yang indah2, di mana2 saja… ikannya
jinak ya, ada juga ikan duyung - punya tangan seperti
manusia…
Kalau kita bandingkan dengan sekarang,
memang ada listrik, ada rumah2 bagus, kalau dulu tidak
ada, tetapi hidup kami sangat bahagia, karena kayaknya
pulau sendiri, tidak ada orang banyak…
Rusaknya karang, itu pertama disebabkan
oleh manusia… ada pembuangan jangkar yang tidak
terarah, ada juga dulu pemboman pakai dinamit, kemudian
ada juga dengan potas untuk menangkap ikan hias, tetapi
yang merusak total itu pemanasan global yang menghantam
semua karang, mulai panas tahun 1989 sampai tahun 1995,
suhu naik2 terus, sehingga karang itu mati. Itu memang
sedih, karena saya terbayang dengan keindahan dulu….
Masa kecil saya, ada banyak penyu, ada
orang yang menangkap penyu dengan tombak, tapi tidak habis
karena banyak. Mereka bukan orang Gili, kami tidak boleh
itu, dilarang orangtua untuk mengganggu penyu, sedikit
ada dengan agama kami pertama, kemudian dengan tradisi
juga, jadi penyu tidak pernah bisa diganggu, ‘tapi
orang dari luar Gili datang menangkap karena di sini banyak,
karena tidak diganggu.
Sejak tahun 1995, kita mulai coba dengan
Pak Ernest, menternakkan, ya, membudidayakan, jadi kalau
saya ke Mataram, ke pasar, terus jumpa orang jual telur
penyu, saya beli karena dia pesan untuk dibudidayakan.
Jadi sudah banyak sekali yang dilepas di pantai Gili Air
ini.
Makan penyu – itu kami tidak boleh,
karena itu sudah menjadi kepercayaan – bisa sakit.
Ada satu buktinya –ya, orang di sini, “aaahh!!
itu cerita2 lama” katanya, “tak usah percaya,”
itu penyu sedang bertelur, dia tangkap. Telurnya belum
keluar, dia masukkan tangannya, dikeluarin telurnya begitu
dari dalam perutnya penyu itu, sampai penyu itu mati.
Nah, terus, bagaimana? Begitu istrinya sedang hamil, begitu
melahirkan, anaknya pakai tangan seperti penyu –
ya!! Semacam kutukan… ada keyakinan bahwa Allah
marah…
|