Memburu
Penyu
Kutipan cerita Kerari Damud dari Pulau
Erub, Darnley, diceritakan oleh Kemuel Kiwat.
Di Keirari, di Pulau Erub, ada suatu
suku orang yang hidup rukun serumah besar. Tanahnya subur
sehingga mereka bisa hidup dengan makan hasil kebunnya.
Pada suatu hari, selama musim kawin,
mereka melihat seekor penyu mengapung di sebelah luar
terumbu karang di depan rumahnya. Beberapa orang laki-laki
melaut dalam perahunya, mendayung bermaksud menangkapnya.
Pada setiap sa’at mereka mendekati
penyu itu, dia berenang ke arah laut lepas, sehingga mereka
harus mengikutinya. Seorang bernama Damud berdiri di depan
perahu, siap untuk meloncat ke atas punggung penyu itu
dan menangkapnya.
Mengapung di sekitar penyu betina itu
ada banyak alba (penyu jantan). Pada sa’at
Damud meloncat mencoba menangkap penyu betina itu, semua
alba itu merebut Damud dan menarik dia jauh ke
lautan lepas. Teman2 Damud di dalam perahu berupaya mengejar
dia, tetapi alba itu berenang berlaju-laju. Mereka
mendayung jauh ke lautan, tetapi si Damud tidak terlihat
lagi..
Bapak Rocky Nai dari Pulau Yorke menceritakan
sejarah memburu penyu
Paman dari pihak ibu mengajari pemuda
kepandaian memburu penyu. Mereka memakai Wap
(semacam tombak kayu), Kulur (piarit) atau Amu
(tali). Senjata2 ini tidak boleh dipegang oleh perempuan.
Migi Koebul (penyu jantan berekor
pendek) bisa ditangkap tetapi Gathaw Warn (penyu
karang jantan tua) tidak pernah dimakan.
Prapa (penyu hijau) enak dimakan,
khususnya penyu betina muda dengan dada dan leher kuning.
Mereka paling gemuk pada waktu musim kawin.
Wanita yang hamil tidak boleh makan penyu
sisik kalau-kalau anaknya akan menjadi darnsika
(nakal). Oonoewa (Penyu sisik) dapat berbisa
kalau kantong empedu atau usus dimakan. Kulitnya dipakai
untuk dibuat topeng, mata kail, gelang dan perhiasan. |