Konservasi
Selama beribu2 tahun, arus laut telah
membawa kehidupan ke pulau terpencil ini, menciptakan
keanekaragaman alam yang unik. Sekarang ini, arusnya membawa
sampah dari seluruh dunia ke dua teluk kecil di pantai
timur Pulau Krismas.
Walaupun tidak ada penduduk asli, lima
keturunan pendatang suku Cina dan Melayu sudah menghuni
pulau ini. Adat dan cerita merekalah yang memberikan keberartian
ke pulaunya dan kehidupan laut yang mengelilinginya.
Didorong oleh keprihatinan terhadap penyu
laut yang mencoba menggali sarang, sukarelawan dari masyarakat
setempat mengangkat 1.5 tonne sampah dari pantainya dua
kali setahun.
Lin Gapp menceritakan Proyek Pembersihan
Pantai Greta. Keinginan kami ialah supaya penyu bisa bertahan
hidup. Saya menghabiskan banyak waktu di Pantai Greta,
memeriksa sampah di sana. Suatu kali pada waktu bulan
purnama kami melihat beberapa ekor penyu bersusah payah
mencoba menggali sarang di pasir di tengah tumpukan sampah.
Masyarakat di sini berkehendak memecahkan masalah ini,
maka dari itu mulailah program pembersihan pantai. Setiap
bulan April dan September sebelum dan sesudah musim hujan,
lebih dari 1.5 tonne sampah diangkat dan dipikul ke atas
tebing. Kebanyakan sampah yang sampai di sini berasal
dari Indonesia. Yang paling banyak ditemukan ialah sandal
jepit, sikat gigi, dan mainan plastik kecil.
Banyak benda yang aneh juga terdampar
di pantai, misalnya sebuah tas sekolah dari Tasik Malaya,
sebuah topi Paspampres, bola lampu, dan bahkan kepala
wayang golek. Konon kabarnya itu kepala Kresna, salah
satu jelmaan Visnu, yang muncul kalau bumi kita perlu
ditolong.
Suatu kali, saya menemukan ukiran kayu
yang sangat bagus. Bentuknya panjang dengan ujungnya dibulatkan,
diukir dengan gambar ombak atau bunga. Kira2 tiga hari
kemudian, di pantai, saya menemukan sepotong kayu lagi
yang kelihatan hampir sama. Ternyata bahwa kedua kayu
itu merupakan sebuah potong yang telah dibelah dua. Setelah
digabung,
polanya cocok sekali, seperti gambar bunga. Itu menakjubkan
bahwa pada dua hari yang lain, di bagian pantai yang lain,
saya menemukan kedua belah kayu itu. Saya mendapat gagasan
kalau seandainya kami bisa berhubungan dengan sebuah desa
di Indonesia, kita bisa membicarakan soal sampah itu,
dan mungkin bisa saling menukar karya seni. Kita bisa
mengadakan upacara pemberian separoh ukiran kayu itu sebagai
simbol upaya kerjasama untuk mengatasi masalah sampah
ini.
|