Keseimbangan
I Nyoman Arya, penari dan pencipta
sendratari Bedawang Taksu menceritakan kematian penyu
Batara Wisnu di Pura Watu Klotok di pantai timur Pulau
Bali, pada tahun 2003.
Sepuluh malam sebelum bulan purnama,
seekor penyu yang besar sekali, lebih panjang dari dua
meter, terdampar di pantai di muka pura. Dua orang nelayan
membunuh penyu itu dan membawanya ke pasar di kota Denpasar.
Keesokan harinya, pada dada penyu itu, kelihatan tanda
tapak dara yaitu tanda pengenalan dewa Visnu! Semua orang
tahu bahwa itu kejadian yang luar biasa. Tidak ada orang
yang berani memotong daging penyu itu, karena dikenal
sebagai Batara Wisnu, yaitu jelmaan dewa Visnu, dewa laut.
Kedua nelayan itu takut sekali, lalu mereka kembali ke
pantai untuk menguburkan penyu itu di pasir di depan Pura
Klotok.
Tiga hari kemudian, pada siang hari,
selama orang desa Klotok sedang bekerja memugar pura,
darah yang segar keluar di sebelah pinggir kuburan penyu.
Tingginya luncuran darah itu, kurang-lebih setengah meter.
Semua orang lari ketakutan dari sana. Selama beberapa
hari setelah itu, terjadi banyak keanehan. Yang pertama,
ada badai dengan cahaya halilintar keluar dari kuburannya,
lalu puranya tertimpa ombak gede yang tidak menyentuh
kuburannya, lalu tubuh nelayan yang membunuh penyu itu
kena luka2 memar...”
Kemudian, kata para pedanda, di sana
harus diupacarai karena penyu itu adalah mahkluk sakral,
dan karena di Bali, konsep daripada filosofi, di agama
Hindu ini, semuanya adalah menyelaraskan diri, menyeimbangkan
dengan alam, jadi apapun proses alam itu diseimbangkan.
Airnya diupacarai, ada upacara istilahnya
Lobong Ngaben. Pada sa’at upacara pengabenan, masyarakat
dari seluruh Bali datang berduyun-duyun. “Setelah
diupacarai, di sana juga pelinggih ditempatkan, dibuat
suatu tempat pemujaan karena Betara Segara ditanam di
bawah pelinggih itu, maka dipersembahkan kepada Betara
Lingsir Keduling Segara, yaitu penguasa pantai selatan.
Semua penduduk desa Klotok harap bahwa
karena dipugar mungkin beliau akan kembali ke tempat beliau,
dan dia akan datang lagi setelah diproses upacara. Walaupun
ada yang berpendapat bahwa sesuatu yang buruk bisa terjadi
di pulau Bali oleh karena kematian penyu sakral itu -
kita harap bahwa setelah upacara itu, para dewata akan
tenang.
Tiga minggu kemudian, dua bom diledakkan
di Kuta, menewaskan 283 warga Bali serta wisatawan asing.
Menurut banyak orang Bali, penghancuran ini terjadi oleh
karena kematian penyu sakral tersebut.
Kelompok Penari anak2 desa Pemuteran
sekarang mementaskan cerita ini setiap malam Minggu. Keuntungannya
disumbangkan kepada masyarakat serta program pelestarian
penyu laut.
|