Anugerah
Kesuburan
Ibu Vina berbicara tentang perasaan
kasih sayang orang Alor terhadap penyu, dan mengenai penyu
sebagai lambang dalam tenunan aslinya.
Saya bernama Vina. Saya adalah seorang yang suka menenun.
Kami biasa bertenun waktu dulu kala, pakai melihat bulan
purnama. Lantas, kalau orangtua kami, nenek moyang kami
melaut, melihat pada bulan, untuk berlayar kemana2, begitupun
juga, untuk pakai menenun, yaitu, suatu waktu, orangtua
kami ke laut, tiba2 ada kura2 yang begitu banyak...Kura2
mendarat di pantai, sampai di pesisir, di atas pasir,
di situ terus kami lihat mereka sementara mau mencari
tempat untuk bertelur.
Di situ kami mulai timbul pikiran kami untuk mau berlayar,
separoh untuk bertani, berkebun, dan separoh untuk menenun,
yaitu seperti gambar yang sekarang ada di sarung ini..yaitu
sarung ikan, sarung penyu, disebut sarung ikat namanya.
Dan, kalau kami mau menenun untuk kakak sulung kami, dari
Alor Timur atau Kolana, bukan kami mau tenun tenunan biasa.
Kami harus membuat pesta yang besar-besaran, membunuh
kerbau, atau sapi, untuk perhiasan tenunan untuk kakak
sulung atau anak sulung kami, pada waktu kelahiran.
Dulu, nenek moyang kami waktu berlayar dengan kapal, pernah
terdampar di suatu pulau kecil. Tidak ada makanan atau
air minum di sana - semua orangnya akan mati.
Tiba2, datang seekor penyu besar mendarat di pantai. Di
bawah cahaya bulan purnama, ia menelurkan ratusan telur,
sehingga nenek moyang kami selamat, karena bisa makan
telur penyu itu. Itu seperti anugerah dari Tuhan.
Kami masih menceritakan kejadian ini, dan kalau kami bertanam,
pada bulan purnama, kami menaruh batu penyu di ladang.
Maka sejak waktu itulah, kura-kura selalu disayangi dan
dilindungi oleh nenek moyang kita, yang selalu dibawa
dari generasi ke generasi. Kami senang melihat semua binatang
- penyu, buaya, biawak. Dulu, ada buaya yang suka masuk
ke rumah kami, sekarang mereka jarang terlihat, tetapi
penyu masih bertelur di sini.
Ya, penduduk Alor tidak suka membunuh. Mereka hanya melihat-lihat,
begitu - tidak suka membunuh, kecuali orang dari kampung
lain, dari Flores, itu orang suka membunuh, 'tapi kami
tidak suka membunuh. Dia suka makan dagingnya, kami senang
memelihara begitu, suka melihat-lihat sementara mereka
berenang.
Images: Patung2 dibuat oleh keluarga Vina dari Alor Timor.
|